masih saja tentang kita

26 Feb

ketika otonomi daerah dijalankan, sebagian besar departemen dan lembaga di otonomkan menjadi instansi daerah yang kerap disebut dinas. beberapa lembaga bertahan ingin tetap terpusat dengan ragam alasan. salah satunya adalah kita (baca : tempatku menjadi tukang ketik). satu alasan klasiknya adalah  menjaga independensi. konon konsumen utama adalah pemerintah jadi ketersediaan data harus terjamin. jika menjadi dinas daerah hal itu tidak akan terjadi. kita akan diatur dan tidak mampu menghasilkan data terpercaya. sungguhkah demikian? apakah selama ini produk kita independen. benarkah bahwa kita bebas dari intervensi kepentingan? sungguhkah data kita terpercaya? bahkan mereka yang diaku sebagai konsumen utama tidak konsisten menggunakan produk kita. bukankah acap terdengar menteri bahkan presiden meragukan data kita, apalagi swasta dan dunia usaha. sayup-sayup ada yang menjawab : tugas kita hanya mengumpulkan. terserah kepada pemerintah mau dipakai atau tidak. loh, jadi belum tentu dipakai toh 🙂

belum lagi kalau mencoba sendengkan telinga, suara-suara lirih nan sumbang terdengar di seantero negeri. suara yang sudah terdengar oleh penulis (baca : saya) sejak pertama menjadi tukang ketik. suara yang masih saja bergaung setelah lebih sedekade. memang masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan, namun tidak boleh menafikkan bahwa banyak kemajuan yang sudah dicapai oleh kita bukan? bukankah kita juga lebih ‘sejahtera’ sekarang? lantas kenapa masih ngedumel?

nah, akan banyak jawaban dari klaim diatas, dan itu wajar 🙂 siapa yang puas dengan kunjungan atau pengawasan yang terkesan formalitas justru oleh pihak yang berapi-api menekankan kualitas dan persoalan moral hazard? siapa yang tidak geli mendengar himbauan untuk tidak ego sektoral namun yang menyampaikan itu tidak mampu koordinasi untuk membuat program kegiatannya? siapa yang tidak heran dengan program kegiatan yang katanya penting tapi tanpa dukungan anggaran yang memadai? belum lagi persoalan administrasi kepegawaian yang kadangkala menelurkan kebijakan yang terkesan untung-untungan. setiap orang akan punya segudang keluhan yang tak putus-putusnya.  tapi saya yakin pemangku kepentingan juga akan punya jawaban yang tak habis-habisnya 😀

persoalannya adalah kita lelah berjuang sendiri. lalu kenapa bekerja sendiri ketika bisa bersama? acapkali kita keluhkan kualitas data di daerah tapi kitapun minim upaya untuk membina perstatistikan di sana. resisten dengan daerah yang ingin statistiknya maju. kadang ada yang sensitif jika daerah ingin menelurkan produk statistik. seharusnya kita mendorong agar setiap daerah punya  dinas yang menangani statistik daerahnya. setiap kementerian punya bagian yang menangani kebutuhan data sektoralnya. lalu kita kurang kerjaan lantas dibubarkan? kita terlalu penting untuk disepelekan teman. peran kita adalah melakukan pembinaan statistik untuk mereka secara kontinu dan berkala. kita seyogyanya memposisikan diri sebagai konsultan dan pengawas untuk kegiatan statistik yg mereka lakukan. kelak ksk yang kita bangga2kan benar2 bekerja sesuai dengan sebutannya : menjadi koordinator statistik di kecamatan. bukan sekedar tukang rekrut mitra statistik atau tukang cacah dari rumah ke rumah seperti selama ini. pada gilirannya dinas dan lembaga lainnya memiliki kemampuan yang baik untuk melakukan survei, mendiseminasikan hasilnya dan melakukan analisis dengan pengawasan dari lembaga statistik nasional. siapa tau, jika statistisi menjadi profesi, kita bakal jadi lembaga yang mengawasi sertifikasi profesi itu. ha3.

mindset yang keliru dikalangan kita adalah mereka (baca : selain kita) tidak bakal bisa, tidak dapat dipercaya. ya iyalah teman, kalo tidak dimulai kapan mereka bisa. depkeu saja setelah bertahun-tahun, masih melakukan pembinaan keuangan diinstansi pemerintah sampai hari ini. sadarilah bahwa kita tidak  bisa mengerjakan semua sendiri. tidak dengan anggaran kecil yang sering dipotong. tidak dengan sdm yang ngga pernah cukup entah dari tahun kapan. tidak dengan tuntutan statistik yg makin njlimet dan rinci. tidak juga dengan ketergantungan thd pimpinan nasional kita 😀 kalo benar ada kesadaran ideal untuk mendukung pemerintah dengan data yang berkualitas, kita semestinya terbeban untuk menjadikan daerah dan lembaga lain melek statistik. bahkan dengan begitu sebenarnya kita sedang menolong diri sendiri loh. atau jangan2 takut kehabisan proyek dan kegiatan? masih ada yang berpikiran begitu hari gini? astaga, bangun oooiii.

tapi itu semua sebatas wacana pemikiran saya yang sesat teman 😀 apatah  daya kita hari ini masih lembaga yang benci tapi rindu dengan padatnya jadwal. kesal tapi doyan tumpang tindih kegiatan. kasmaran berkutat dengan peliknya keterbatasan anggaran dan sdm. masih bangga dengan jargon pahlawan sendirian. masih terpesona dan haru biru dengan foto dan cerita pengorbanan pencacah lapangan. bukankah cerita2 semacam itu yang masih mewarnai diskusi kita? sayangnya begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: