Lembaga Serba Ada

14 Feb

Konon ada sebuah lembaga survei yang melaksanakan banyak kegiatan secara rutin (berulang). Namun kekurangan yang sifatnya klasik masih kerap terjadi. Disebut klasik, karena dari waktu ke waktu masalahnya selalu (hampir) sama dan berulang. Barangkali seperti pemulung yang sudah terbiasa dengan bau sampah sehingga tidak lagi terganggu bahkan menjadi sesuatu yang wajar? Memang kekurangan yang terjadi adalah manusiawi dan disebabkan oleh begitu banyak faktor. Namun jika dicermati salah satu faktor yang punya andil besar adalah beban kerja yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja dan waktu yang tersedia. Energi habis tersedot berbagai kegiatan yang tak kunjung habis, berentetan, dadakan, bahkan seringkali tumpang tindih. Sehingga pembinaan internal, perbaikan sistem dan struktur organisasi, peningkatan kualitas SDM dan sebagainya yang justru sangat penting untuk penguatan organisasi terkesan berjalan tertatih-tatih, maklum energi sudah habis terkuras untuk mengejar target deadline. Kualitas? Walahualam.

Waktu tidak bisa ditambah, tenaga kerja dibatasi bahkan jika mungkin dikurangi. Yang bisa dilakukan adalah menata ulang beban kerja yang ada. Lembaga survei ini tentu tidak bisa dan tidak boleh menolak tugas yang diberikan oleh negara (sepertinya sering dengar ya), tapi bukankah sekarang adalah momentum untuk perubahan? Adalah lebih baik sungguh –sungguh menguasai satu bidang pekerjaan  dari pada menangani semua hal tapi tidak maksimal. Bagaimana mungkin menjadi lembaga  profesional jika semua  survei dari berbagai bidang dan sektor dikerjakan? Justru di era sekarang, keahlian di satu bidang tertentu lebih dihargai. Seseorang yang punya keahlian tertentu lebih baik dari seorang yang biasa-biasa saja dalam sepuluh bidang sekalipun.

Seperti ABG labil, lembaga ini seperti sedang mencari jati diri dan pengakuan sehingga terkesan tidak ma(mp)u menjelaskan dan memposisikan diri secara tegas. Kalo ane boleh kasih saran, saatnya untuk fokus pada pengumpulan data statistik yang  jadi fungsinya saja dan mendefinisikannya secara jelas dan terukur, agar ranah kerja terbatas. Jika ada kendala oleh undang-undang dan peraturan, bukankah semua itu bisa dirumuskan ulang? Janganlah ada niatan menjadi lembaga survei serba ada dan serba bisa. Emang bisa? Terkesan gagah dan ruarrr biasa, namun seringkali malah mempersulit diri sendiri. Dengan limitasi tugas dan fungsi- tentu akan berdampak pada struktur organisasi yang lebih ramping-niscaya bisa menghasilkan data yang semakin hari semakin berkualitas, tajam dan terpercaya. Tidak perlu semua data dihasilkan oleh satu lembaga. Harus ada keseimbangan antara tuntutan kualitas dengan kuantitas, tidak  perlu jor-joran seperti kejar setoran. Perlu berbagi peran dengan berbagai lembaga lain dalam penyelenggaraan statistik. Biarkanlah statistik lainnya dikerjakan oleh para stake holder. Lembaga ini bisa menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan konsultan statistik untuk itu. ehmm.. ehm, setuju?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: