Sensus, Senses, Sensi

1 Jun

Mari Sukseskan Sensus Penduduk! Salam Sensus! Pastikan Anda dihitung! de el el , slogan-slogan yang dah bosan aku dengar dan baca (apa hanya aku y), baik melalui rapat, pelatihan, pamflet, spanduk, brosur, iklan sampe sms. Maklum sebagai KSK (Koordinator Sensus Kecamatan) yang merangkap sebagai TF (Task Force), awalnya juga  Inda (Instruktur Daerah), panitia pelatihan, dan sebagainya (maklum pegawai di daerah ya begitu), sedari awal sudah dibombardir dengan slogan-slogan semacam di atas.

Tentu, sebagai sebuah proyek raksasa (katanya sih), Sensus Penduduk membutuhkan militansi dari para punggawanya dalam hal ini pegawai BPS (Badan Pusat Statistik) di seantero Tanah Air Indonesia agar bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Dan, kalo ditilik dari  berbagai persiapan dan perencanaan yang dibuat, pimpinan di Pusat (Jakarta coy) sudah merancang pelaksanaannya dengan sangat-sangat baik. Keseriusan Pimpinan di’atas’ dapat dilihat dari pelaksanaan pelatihan yang jauh lebih baik (pelatihan Inda) dari sebelumnya. Proses perekrutan petugas, sosialisasi dan sebagainya. Cuma saja, mungkin sedikit catatan kecil tentang perkara kecil nan klasik, adalah keseimbangan SDM (Sumber Daya Manusia) baik jumlah dan kualitasnya. Militansi yang dibangun hendaknya dibungkus dengan akal sehat alias senses agar bisa lebih optimal bukan tinggal sekedar semangat doang tanpa diimbangi aksi yang sama berapi-apinya, karena kalo personilnya kedodoran (kaya’celana gombrong aje) buyar semuanya. Ga ada artinya. Namun birokrasi tetaplah birokrasi, ABS (Asal Bapak Senang) jamak juga terlihat. bukan cuma pemikiran sederhana ini namun pikiran-pikiran cerdas lainnya dari bawah (yang saya yakin sangat banyak), sederhana tapi sangat bermanfaat buat BPS terkhusus buat sensus ini tak tersampaikan mungkin ke’atas’. Takut dianggak mbalelo, ga mampu mengikuti perintah atasan, ga cerdas, gengsi dsb dari pimpinan-pimpinan di daerah. Akibatnya pelaksanaan SP ini ‘sedikit’ terhambat dengan hal-hal ga penting seperti kurang pensil, dokumen kehabisan atau terlambat, miskomunikasi, ga nyambung dengan petunjuk dari pimpinan di Pusat dsb.

Akibatnya, seperti kendaraan kehabisan bensin sebelum mencapai garis finish, di ujung-ujung pelaksanaan sensus timbul riak-riak ketidak puasan, gerutu, penurunan semangat, tersendat-sendat mencapai garis finish bikin sensi.

Mungkin perlu dikaji juga kemampuan seorang pimpinan dalam memimpin, bukan sekedar menempatkan seseorang jadi pimpinan karena sudah senior atau seolah-olah tak ada pilihan lain. Karena ibarat nahkoda, yang menentukan maju mundur dan kecepatan kapal tentu ada ditangannya. Buruk nahkodanya maka kapal akan berjalan dengan lambat dan tak jelas arahnya.

Mudah-mudahan semuanya itu menjadi pembelajaran untuk BPS yang lebih baik ke depan. Entah kapan.

2 Tanggapan to “Sensus, Senses, Sensi”

  1. rumahmatahari Juli 16, 2010 pada 6:17 am #

    sebenarnya apa maanfaat paling nyata untuk masyarakat itu yang perlu disampaikan sebelum sensus yg berikutnya. jadi BPS mendapat dukungan masyarakat, gak jalan sendiri dan beban tugas lbh ringan.

  2. Ervin Juli 23, 2010 pada 3:58 am #

    yah, ada benernya juga. mungkin sosialisasi yg dilakukan msh blm optimal. mdh2an ke dpn bisa lbh baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: