Ritual Mei

9 Mei

kisah ini aku ambil dari kompas.com/oase/ceritaku oleh roy thaniago. mudah-mudahan beliau tidak keberatan ceritanya aku post di blogku.  kisah yang membuat aku merenungkan eksistensi Indonesia. selamat menikmati bulan mei…

Mei Hua duduk dengan dingin di bangku taman. Ia selalu begitu tiap pagi. Menahun. Membiarkan jari-jari cahaya yang menyelinap lewat celah daun beringin menyisir rambut sebahunya. Meloloskan kaki-kaki cahaya yang menyiram kulitnya dengan bau pagi.

DI taman itu Mei tidak sendiri. Ada belasan orang dengan beragam umur memandikan diri mereka di bawah langit pagi. Sebagian ada yang lebih tertarik bertelanjang kaki dan mencumbukan telapaknya dengan embun yang berbaring di rerumputan. Ada juga yang lebih memilih untuk berdiri di sepanjang koridor. Mengusir kantuk sambil menggigil. Yang lain ada yang tertawa, berbisik pada anggrek, bahkan menari.

Cuma Mei yang agak lain. Bukan saja buatku, tapi buat para pekerja di sini. Gadis manis yang pipinya berwarna apel muda ini sering terlihat bisu di tiap ritual pagi. Ia tidak berbicara, tersenyum, apalagi menangis. Tidak. Tidak semua itu. Ia nyaris tanpa ekspresi. Di taman seluas lapangan voli itu, yang dijejali puluhan pohon berbagai jenis – tanaman buah, hias, juga obat – Mei menatap jauh ke langit. Pandangannya lurus. Seakan sedang membaca sebuah pesan yang tergurat di langit yang awannya seperti berkejaran saling menggulung.

Bagiku pada waktu inilah Mei terlihat amat cantik. Matanya bening, bulat, dan teduh. Bibirnya seperti tomat mengkerut yang baru diperciki air. Dengan pipi yang berlesung sebelah seakan membuatku sadar bahwa aku terlalu cepat menikah. Dan dengan mengenakan pakaian terusan berwarna melati, rasanya sudah lengkap kesempurnaan Mei sebagi perempuan. Sebuah kehidupan kecil di hari yang pagi, yang menyita waktu bekerjaku untuk sejenak menikmati ritual Mei tiap pagi.

Bukan tanpa alasan aku bertingkah begitu tiap pagi. Mei memang tak pernah mengajakku bicara, tapi kehidupan Mei lah yang mengajakku bicara. Menuntunku untuk paham terhadap badai yang pernah digumuli Mei. Menemaniku untuk menemukan diri Mei dalam kehidupan yang lain.

Aku jadi ingat ketika pertama kali tiba di sini. Waktu itu persis seperti masa ini. Di satu pagi yang biasa, ketika aku diajak berkeliling oleh Bu Wid, seniorku, menyusuri gang-gang yang bersih dan ditempeli porselin. Melewati orang-orang yang sedang bermain di taman. Atau disapa oleh orang yang berdiri linglung di depan pintu, yang senang mendengarkan bunyi langkah sepatu hak Bu Wid yang teradu porselin dan menggaungkan bunyinya ke sepanjang gang. Di saat itu pulalah perhatianku tersedot pada seorang perempuan cantik bergaun warna melati yang duduk di bawah pohon beringin. Di bangku itu ia menekuni ritualnya untuk teguh memandangi langit. Nanarnya kosong tapi ada asa di dalamnya. Asa yang tak sempat tersuarakan.

“Selamat pagi, Mei. Apa kabar kamu hari ini?”, begitu Bu Wid memulai paginya dengan menyapa tiap orang di sini. Tak peduli apa statusnya.

Mei bergeming. Menoleh pun tidak. Ia tetap asik memeluk langit dengan matanya. Bahkan ketika tangan Bu Wid melambai di depan matanya, Mei hanya diam. Tak lama ia geser pandangannya agar tak terhalang tangan Bu Wid dalam memandangi langit. Kalau sudah begini Bu Wid hanya tersenyum dan menghela nafas. Kemudian mengelus pipi Mei dengan punggung tangannya yang gemuk. Sesekali Bu Wid merapihkan rambut Mei yang tersingkap karena dipukul angin yang merayap turun dari pohon beringin di atasnya.

“Onath, ini Mei”, kemudian lanjut Bu Wid, “Mei inilah yang membuat pekerja di sini betah, bahkan jatuh cinta pada pekerjaannya. Tapi bagiku mereka hanya mencintai Mei, bukan pekerjaan mereka”, cerita Bu Wid sambil menaikkan bingkai kacamatanya yg melorot.

Namun, setelah Bu Wid dipindahkan bekerja ke tempat lain, akulah yang menggantikan mengurusi semua pekerjaannya. Termasuk memperhatikan Mei tiap pagi.

***

“Aku titipkan harapanku padamu ya, Nath”, pesan Bu Wid di peron, ketika aku antar sampai stasiun. “Terutama Mei. Dulu sekali, ia berkata ingin mengusap langit dengan rambutnya. Namun kami, aku dan semua pekerja, tidak ada yang mengerti maksud tersebut. Sampai jumpa, Nath. Kirimi aku kabar”.

Belum sempat kutanya lebih jauh, peluit petugas stasiun sudah menjerit-jerit kencang. Mengalahkan pesanku pada Bu Wid, “Hati-hati, Bu”.

***

Kepergian Bu Wid yang teramat cepat – sebulan setelah kedatanganku – membuatku sedikit gugup. Dibanding Bu Wid, pengalamanku bukanlah apa-apa. Setelah lulus dari almamaterku lima tahun lalu, aku lebih banyak disibukkan dengan menekuni literatur-literatur tebal. Hingga aku sadar, teori tanpa praktek adalah mati.

Betul juga kata Bu Wid, Mei yang selalu sama di setiap pagi, memang penghuni paling istimewa. Pantas saja pekerja di sini lebih mencintai Mei dibanding pekerjaan mereka. Menyaksikan Mei dalam kesendiriannya, menjadi vitamin bagi semua pekerja untuk datang ke sini pagi-pagi. Pria dan wanita. Tua maupun muda.

Mei memang punya dunia sendiri. Ia tidak pernah mengenal orang-orang yang mencintainya. Namun ritual Mei tiap pagi mengeruk simpati para pekerja di sini. Mereka menginginkan suatu hari Mei menoleh ketika disapa atau tersenyum manis ketika berpapasan. Namun Mei tidak pernah tahu itu.

Jadi percuma saja jika para pekerja di sini ikut duduk di sebelah Mei tiap pagi. Membaca langit yang juga dibaca oleh Mei. Atau tingkah beberapa pekerja yang malu-malu melihat Mei dari kejauhan sambil menyeruput kopi. Lebih lucu lagi Pak Kirmin yang berlagak mengantar koran pagi ke ruanganku. Padahal ia ingin melihat Mei.

Pernah pada satu waktu, seperti biasa di pagi yang biasa, aku hampiri Mei yang tenggelam dalam ritual paginya. Aku beranikan diri untuk duduk berdampingan dengannya. Kebetulan bangku taman panjang yang diduduki Mei, menyisakan ruang untuk kupantati. Bangku kayu yang besi sandarannya sudah menua itu seperti meneriakiku, “Ngapain kamu mendekati Mei!”.

Seperti biasa, Mei tidak terganggu dengan kehadiran orang di dekatnya. Apa yang kuucapkan tak ada yang direspon olehnya. Aku bercerita tentang seekor kupu-kupu yang melupakan masa lalunya sebagai ulat dan kempompong yang menjijikan. Yang hanya bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Yang dengan puasnya bisa mengitari kebun. Dengan leluasanya mengunjungi bunga-bunga yang indah seperti dirinya. Kemudian menyapa putik dan mempertemukannya dengan benang sari. Kupu-kupu itu pun suatu hari mati. Namun apa yang ia tekuni tiap hari di kebun, menghiasi kehidupan di dalamnya. Kebun-kebun itu tidak lagi sepi. Tapi ramai oleh kuncup-kuncup bunga yang mekar berbarengan. Bunga-bunga yang tak pernah tahu, bahwa pernah ada seekor kupu-kupu cantik yang menjadikan mereka ada.

Aku sudah menebaknya, tentunya dengan pasrah, Mei tidak peduli. Baginya, menyaksikan langit yang direnangi oleh burung-burung pipit lebih menarik. Atau merenungi mengapa matahari tak pernah menyapa bumi pada waktu yang selalu sama. Ah, semua perandaian itu bagiku tidak menarik. Aku hanya tertarik pada Mei. Yang ketika ia memicingkan mata ketika matahari menyilaukan membuatnya begitu amat cantik.

Atau pada waktu yang sama sekali lain, aku pernah merasa jatuh cinta luar biasa kepada Mei karena satu peristiwa. Di pagi itu, aku bangun agak telat karena hujan lebat sejak semalam membuatku nyenyak di atas kasur. Namun betapa kuterkejut hebat ketika melakukan ritual pagiku dengan mengelilingi taman. Di taman itu, ketika semua penghuni memilih meringkuk diri di bawah selimut, namun di bawah pohon beringin itu, di kursi kayu itu, Mei duduk dengan tenang menyaksikan langit yang muram. Merelakan dirinya disetubuhi hujan pertama di bulan ini. Seakan Mei tidak pernah mengerti hujan. Atau karena terlalu sering menangis, sehingga sulit membedakan basah dengan kering bola matanya.

Kontan saja aku lari menggapai Mei di keheningannya. Kuloloskan stetoskop yang melingkar di leherku dan melemparnya ke entah. Satu kali aku terpeleset karena kakiku menginjak lumpur yang berkubang. Kuharap Mei menoleh ke arahku ketika itu. Memandang dan mengkhawatirkanku. Tapi harap itu tidak terwujud. Mei tetap santun memandang langit yang meneriakkan gemuruh dan memperlihatkan kilat yang menerangi taman dengan sekejap. Ketika kuambil pergelangan tangan Mei, seketika ia menoleh dan menatap dalam ke mataku dengan bengis dan benci. Selanjutnya meronta dan meraung. Ganas.

“Bangsat! Perkosa saja aku! Lepaskan orangtuaku! Bangsat kau!”

“Mei, tenang, Mei. Ini aku, dokter Onath.”

“Pergi kataku! Jangan ambil mamaku! Jangan bakar papaku! Ambillah tubuhku! Pakai sesuka hatimu, bangsat!”

“Mei!”, seketika sebuah tamparan melayang ke pipiku. Mula-mula sekali, kemudian dua, tiga, hingga berulang-ulang Mei menamparku. Aku hanya diam. Memberi diri. Hingga Mei selesai menunaikan kalapnya, ia lelah, dan menangis menjadi-jadi. Aku memeluknya. Mei membiarkan itu. Dan entah mengapa, seperih pipiku, perih pula hatiku. Mei yang membenamkan wajahnya di pundakku, seakan menyeretku pada kehidupan masa lalunya yang biadab karena manusia-manusia jalang. Mendadak ada perasaan begitu haru datang mengepung. Aku jatuh cinta pada Mei.

Setelah kejadian hari itu, Mei kembali pada ritualnya. Pada kebiasaan paginya yang sunyi. Yang tak pernah mengijinkan orang-orang masuk pada pikiran dan relung hatinya yang rumit, perih, gelap, dan sakit. Hingga para pekerja di sini pun hanya mengenal Mei dari berkas administrasi ketika masuk. Di sana hanya tertulis dengan sederhana: nama Mei Hua – lahir di Jakarta, 23 November 1980 – analisa penyakit akibat trauma diperkosa dan menyaksikan pembunuhan.

Pada hari-hari yang lain, cerita tentang kupu-kupu selalu kubawakan sebagai sarapan pagi kami berdua, aku dan Mei. Namun Mei tetap bisu. Ia tidak beranjak dari keheningannya. Daun-daun berterjunan dari dahan-dahan, menggumpal menjadi sampah yang mengotori taman. Buah di pohon ada yang jatuh karena digerogoti serangga. Semut-semut mengantri dengan sabar menyusuri lengan pohon cabai yang kurus. Semua berubah tiap hari. Tidak pernah sama.

Tapi tidak dengan Mei. Ia tetap seorang gadis cantik yang bergaun warna melati, yang tiap pagi duduk di bangku panjang yang memuati taman seluas lapangan voli. Di atas kepalanya, sebuah pohon beringin tua setia merangkul Mei dalam tiap ritual paginya. Ia – beringin itu – hanya memberikan sedikit celah bagi cahaya pagi untuk mengunjungi kulit kuning perempuan itu. Yang tak pernah tahu, di mana ayah-ibunya dikubur setelah mati terpanggang di toko mebel milik keluarga sepuluh tahun lalu, Mei 1998.

Petojo, 210208

Dimuat di Buku KUMPULAN CERPEN TERBAIK Lomba Menulis Cerpen 2008 INTI DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: