Eksotis, Inferior dan Kabar Miring

30 Apr

aku baru saja menjenguk profilku di Facebook. dan aku baru saja bergabung dengan sebuah group bernama I LOVE NIAS. walaupun aku mempertanyakan diriku sendiri apakah mencintai nias (?). ada beberapa comment yang sebetulnya ‘basi’ dan jamak di’post’ group ini. tapi aku bukannya ingin membicarakan hal tersebut. hanya saja aku tiba-tiba teringat dengan kejadian yang aku alami selama aku (beberapa saat) di perantauan. nias, bagi orang nias dan sebagian orang lain identik dengan sebuah pulau yang punya panorama yang indah dan eksotis. juga budaya yang unik. terutama pantai dan ombaknya yang (katanya) salah satu yang terindah di dunia. namun disisi lain, banyak cerita miring seputar nias dan orang nias (suku nias) yang sering membuat aku geleng-geleng kepala (dalam hati. emang bisa?).
sekedar info bagi yang belum tahu, nias adalah sebuah pulau kecil di sebelah barat sumatera yang berjarak cukup jauh. pulau ini dihuni oleh suku nias sebagai pribumi. berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, nias, di sumatera utara (yang dihuni suku lainnya), dianggap sebagai daerah dan suku inferior (oleh suku lain tersebut, tentunya). inferior dalam arti tertinggal dibanding daerah dan suku lain di sumatera utara. dan memang benar bahwa nias dan orang nias tertinggal dalam banyak aspek. sebut saja pendidikan, kesejahteraan, pembangunan dll. cuma saja banyak orang memiliki pemahaman yang keliru tentang inferioritas nias. inferior lebih diartikan sebagai keterbelakangan (bandingkan dengan keterbelakangan mental), dimana nias dan orang nias dibayangkan sebagai daerah dan kumpulan orang yang tinggal dalam hutan rimba, dengan hukum rimba, dan praktik sihir (seram juga ya). hahaha…. mungkin benar juga, dulunya. tapi daerah mana yang tidak seperti itu, dulunya? bukankah nusantara ini dulunya penuh dengan praktik dinamisme dan animisme sebelum agama masuk? bahkan sampai sekarang praktik semacam itu masih ada. sebut saja pelbegu di tanah batak, praktik sesajen di jawa, dan entah dimana lagi di indonesia ini. intinya adalah bukan suatu hal yang aneh jika praktik semacam itu ada di nias, toh dimana-mana ada, sama. secara pribadi, ketertinggalan nias bukanlah sebuah harga mati. just a matter of time. dan keinginan untuk maju dari orang ‘sebangsaku’. tidak usah berkecil hati, karena semua daerah dan orang yang lebih maju (saat ini) juga memulainya dari sebuah kondisi inferior. sama saja. yang dibutuhkan adalah percepatan sehingga, mudah-mudahan, pada suatu titik waktu nias sejajar dengan yang sudah lebih dahulu maju. amin.
mungkin, dilatar belakangi persepsi inferior itulah muncul cerita-cerita miring tentang nias di kalangan bukan orang nias. dan (lagi pengamatan dan pengalaman pribadi) kasus ini juga terjadi dengan daerah atau suku lainnya yang dianggap inferior (oleh mereka diluar suku tersebut, tentunya). entah darimana asal usulnya, atau bagaimana dan siapa yang mencetuskannya, cerita-cerita miring tersebut diteruskan dari mulut ke mulut dan seringkali diyakini tanpa fakta (seperti tahyul) dan walaupun acap kali tidak masuk logika, tapi bagi sebagian orang tetap percaya (bahkan mereka yang sudah berpendidikan tinggi lho!). aneh tapi nyata. tapi dengan catatan, faktor suka-tidak suka (sentimen suku) dianggap tidak ada. atau jangan-jangan faktor inilah yang berperan penting beredarnya cerita-cerita miring tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: