Persepsi Subjektif vs Fakta

25 Apr

pagi ini seorang kawan bertanya apakah aku tidak ingin mengajukan pindah? (maksudnya pindah tempat tugas ke BPS Kabupaten/Kota di luar Nias). pertanyaan yang cukup menggelitik perasaanku. sebenarnya hal itu pernah aku tanyakan pada diriku sendiri.

entah mengapa sekarang aku enggan pindah (dipindahkan) ke tempat lain di Provinsi Sumatera Utara ini. dan aku yakin hal ini menjadi kegembiraan tersendiri buat pihak- pihak tertentu yang tidak perlu terbeban lagi untuk memikirkan penempatanku. perasaan ini bukan karena aku merasa betah di sini, yang nota bene adalah kampung halamanku. namun lebih disebabkan kesadaran (dan kepasrahan) tentang kondisiku. tepatnya kondisi di BPS Sumatera Utara.

kondisiku? aku bukanlah lulusan terbaik dari STIS. dalam pekerjaan aku juga biasa saja. bahkan sebagian orang mengatakan prestasiku dibawah rata-rata. ( sekedar informasi aku di seksi Nerwilis. aku tidak tahu ukuran berprestasi di seksi ini). seorang kawan lain pernah mengatakan tidak perlu berbicara terlalu teoritis kepadaku yang IP pas-pasan. ada benarnya tapi mungkin dia lupa bahwa nilai di STIS tidak serta merta mewakili pengetahuan dan kepintaran (kecerdasan). banyak variabel yang kurang relevan namun sering menjadi faktor utama  yang berpengaruh terhadap grade yang didapatkan (mis. dosen,  minat, absensi, kesehatan, finansial). tidak penting untuk dibahas, intinya aku sadar bukan pegawai yang berprestasi.

kondisi BPS Sumatera Utara? hmm… adalah fakta yang tidak mengherankan hampir tidak ada orang Nias (pegawai BPS yang bersuku Nias) yang bekerja di luar pulau Nias (BPS Kab Nias dan BPS Kab Nias Selatan). karena (persepsi subjektifku) khusus untuk Nias ada kebijakan tidak tertulis yaitu : orang Nias (suku Nias) ditempatkan di Nias. khusus untuk Nias? ya, karena aku yakin kebijakan itu tidak berlaku untuk daerah lain (suku lain) di Sumatera Utara. yang lain boleh bekerja dan ditempatkan dimana-mana tapi tidak untuk Nias. maaf jika tulisan ini berbau SARA tapi (lagi persepsi subjektifku) adalah fakta. orang Nias tempatnya di Nias.

agak mengherankan memang praktik penempatan berstandar ganda ini terjadi di BPS yang (konon) adalah institusi ‘cerdas’ dan dihuni oleh banyak insan ‘cerdas’ dan berpendidikan tinggi. pola pikir sempit ini nyatanya masih berkembang dan dikembangkan. ah,tapi mungkin saja suatu kebetulan saat ini hampir tidak ada orang  Nias yang bekerja di luar Nias. tidak ada orang Nias yang ditempatkan di BPS Provinsi. toh, BPS bukanlah sebuah lembaga perwakilan daerah atau suku yang wakilnya harus ada di sana.

mungkin suatu kondisi yang tidak mengenakkan bahwa daerah Nias terposisikan jauh dan terpencil. bahkan merupakan daerah yang tertinggal. hal ini menjadi alasan klasik susahnya menempatkan pegawai (yang bukan orang Nias) ke Nias. seandainya Nias tidak jauh dan terpencil atau sebuah daerah yang maju, mungkin ceritanya akan berbeda. pertanyaannya apakah hal ini menjadi suatu pembenaran atas kebijakan tidak tertulis itu ? kalo mau adil seharusnya yang di Medan orang Melayu saja. orang Simalungun di Siantar saja. orang Minang pindah ke Padang. orang Jawa penempatan di Jawa saja (kalo ini pasti banyak yang mau🙂. itupun kalau.. masih ada yang namanya keadilan.

dalam paparannya, seorang pejabat BPS Pusat pernah menyampaikan bahwa kebijakan penempatan lulusan STIS adalah ditempatkan di daerah ( jauh) dulu kemudian bertahap di pindahkan ke daerah yang lebih dekat (propinsi, pusat). namun sepertinya tidak berlaku untukku yang justru dipindahkan ke daerah yang lebih jauh ( dari Nias ke Nias Selatan) apakah aku menggugat keberadaanku di BPS Nias Selatan? ya dan tidak. ya, jika aku ditempatkan di sini karena aku orang Nias Selatan. tidak, jika aku ada di sini karena kapasitasku memang untuk daerah ini (yang kebetulan adalah kampung halamanku). aku yakin orang ingin dinilai  bukan karena darimana dia berasal tapi dari usaha dan pencapaiannya. contoh, bukan karena berasal dari Jawa (orang Jawa) lalu pasti lebih baik dari orang yang berasal dari Papua (orang Papua). yang membedakan hanyalah kesempatan dan waktu.

pernah dalam suatu kesempatan seorang pejabat dari Provinsi mengeluhkan susahnya medan (kondisi alam) di Nias yang menjadi kendala pekerjaan. namun dia berujar : tapi orang Nias tentunya sudah biasalah. dalam hati aku tertawa sinis. apakah karena aku orang Nias jalan kaki 10 km tidak capek? menelusuri jalan setapak yang sulit menuju lokasi survei menjadi hobby? kami, orang Nias,  juga manusia yang dapat merasa lelah,  yang kakinya bisa pegal, yang menginginkan kesenangan, yang tidak ingin kepanasan atau kehujanan di perjalanan. persis sama seperti manusia lainnya yang berada di Medan atau Jakarta. persis sama seperti pejabat tersebut yang tidak ingin capek dan maunya mengunjungi daerah yang bisa dilalui kendaraan roda empat saja.

faktanya (atau persepsi subjektif ?) kita cenderung berpendapat dan mengambil kebijakan sepanjang menguntungkan diri sendiri.

kembali ke pertanyaan kawan tadi, jawabanku adalah tidak. karena ketika aku di pindahkan ke Nias Selatan aku sudah tahu keputusannya. apakah aku akan menolak jika dipindahkan? jawabanku adalah tidak. karena dipindahkan adalah perintah sekaligus tugas. jika ada yang kusesali adalah ditempatkan di Propinsi ‘maju’ tapi ‘picik’ ini.

6 Tanggapan to “Persepsi Subjektif vs Fakta”

  1. Zoro Mei 6, 2009 pada 12:37 am #

    Ada kok orang nias yg bekerja di luar nias (bps prov). Namanya Bang Gulo.

  2. Ervin Mei 6, 2009 pada 11:07 am #

    thanks dah ikut nimbrung🙂 Bukan hanya Pak Gulo koq. Ada beberapa lainnya (yang aku tahu) bekerja di luar Nias. lagipula aku menulis ‘… hampir tidak ada’ bukan berarti tidak ada. Kalo km menyimak, intinya bukan ada atau tidak ada koq tapi ‘kebijakan’ yang aku pertanyakan.

  3. Joel Roy PA Mei 27, 2009 pada 1:34 pm #

    Akhirnya keluar juga keluhan yang lama dipendam itu De… Pandangan yang kita sampaikan tentunya tidak pernah terlepas dari kondisi yang kita alami… Aku teringat sekitar 4 tahun lalu tepatnya September 2005 aku pernah berujar kepada seorang pejabat kira-kira “Kalau begitu Pak Bapak seharusnya gak jadi Kabid disini karena Bapak kan bukan orang Sumatera Utara”. Ternyata kondisi ini masih terjadi sampai sekarang, jangan pernah sesali apa yang sudah kau pilih. Semoga kondisi ini cepat berakhir…

  4. Ervin Juni 1, 2009 pada 5:29 pm #

    yup, bang. hanya sekedar unek-unek aja koq. lagian emang musti ada org di daerah khan?! siapa lagi kalo bukan kita-kita.

  5. iin Juni 19, 2009 pada 5:46 pm #

    node.. node.. sabar aja ya.. toh selalu ada hikmah dari setiap kejadian.. nikmati dan jalani hidup dengan senyum aja.. pasti lebih menyenangkan..

  6. Ervin Juni 21, 2009 pada 7:07 pm #

    thx iin bt sarannya:)
    biasalah, iseng2 aja nulis.. asal jgn bnasib kaya’ prita aja. apa kbr di bali?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: